Langsung ke konten utama

Puisi Perihal Takdir - Resha Yuwanda "Psikologi '2020' Universitas Negeri Padang"

 

Perihal Takdir

 

Terkadang takdir mengundang emosi

Kukira setelah senja akan ada bulan

Ternyata malam ini hujan

Retina itu tak mampu menahannya

 

Susunan rencana yang begitu rapi

Tak menjamin acc dari sang pencipta

Miris memang

Tapi bukanlah melangkah adalah solusi terbaik?

 

Sekarang aku tak mampu melihat kedepan

Selalu menundukkan kepala

Mencuri kesempatan untuk berpaling

Memaksa senyum di kala sendu

 

Saat album usang itu mulai terlihat

Kerap kali mengundang pilu

Memori itu tak pernah pudar

Akankah aku kuat untuk bertahan?

Hanya Allah yang tau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Mengeluh Adalah Passion - Alipah Siti Nuradita "Psikologi '2021' Universitas Negeri Padang"

  Mengeluh Adalah Passion Bapak terduduk di teras rumah, meminum kopi yang dibuatnya sendiri. Tersenyum tenang memperlihatkan garis halus tanda kulitnya dimakan waktu. Bapak Suryadi yang sekarang tubuhnya tidak lagi tegap seperti dahulu. Rambut bapak mulai memutih dan lingkaran bawah matanya, kian membesar dari masa kemasa. “Kuliah mas, gimana?” Tanya pria paruh baya saat anaknya itu duduk di sampingnya. Anak sulungnya yang kini beranjak usia dua puluh tahun itu menghela nafas panjangnya, seperti membawa beban begitu berat di pundaknya. Namanya Jagat Dermaga Prabumi. Jagat sedikit jenuh, jujur baginya semester lima ini, membuat sedikit tidak bersemangat. Beban yang dipikul semester lima ini cukup berat. Tugas-tugas yang silih berdatangan beranak pinak pula, tuntutan mata kuliah, pemilihan peminatan atau spesialisasi, dan dibayangi oleh pemilihan tema tugas akhir. Kalau kata Jagat, ‘Tuhan bersama mahasiswa semester lima’ Tatapi Jagat, tidak pernah mengeluh sedikit pun ke...

Puisi Permainan Waktu - Resha Yuwanda "Psikologi '2020' Universitas Negeri Padang"

Permainan waktu     Perlahan waktu merenggut segalanya Yang patah mulai tumbuh Yang hilang mulai terganti Yang dekat mulai teralih   Dikala detak enggan berdetik Kaki enggan melangkah Namun aku tak mampu berbalik Tubuh ini terlalu lemah   Kukira pelangi ada dibalik hujan Nyatanya tak pernah muncul Bahkan jingga enggan menyapa Namun tak apa ... Biarkan waktu yang berkata