Langsung ke konten utama

Cerpen Mengeluh Adalah Passion - Alipah Siti Nuradita "Psikologi '2021' Universitas Negeri Padang"

 

Mengeluh Adalah Passion

Bapak terduduk di teras rumah, meminum kopi yang dibuatnya sendiri. Tersenyum tenang memperlihatkan garis halus tanda kulitnya dimakan waktu. Bapak Suryadi yang sekarang tubuhnya tidak lagi tegap seperti dahulu. Rambut bapak mulai memutih dan lingkaran bawah matanya, kian membesar dari masa kemasa.

“Kuliah mas, gimana?” Tanya pria paruh baya saat anaknya itu duduk di sampingnya. Anak sulungnya yang kini beranjak usia dua puluh tahun itu menghela nafas panjangnya, seperti membawa beban begitu berat di pundaknya.

Namanya Jagat Dermaga Prabumi.

Jagat sedikit jenuh, jujur baginya semester lima ini, membuat sedikit tidak bersemangat. Beban yang dipikul semester lima ini cukup berat. Tugas-tugas yang silih berdatangan beranak pinak pula, tuntutan mata kuliah, pemilihan peminatan atau spesialisasi, dan dibayangi oleh pemilihan tema tugas akhir.

Kalau kata Jagat, ‘Tuhan bersama mahasiswa semester lima’

Tatapi Jagat, tidak pernah mengeluh sedikit pun kepada Bapak. Terkadang Bapak selalu mengatakan, “Kenapa? Ada apa? Kuliah mas bagaimana?”

Jagat hanya tersenyum tipis, Jagat belum siap mengeluh di depan Bapak.

Lelaki itu menoleh ke arah Bapak, “Alhamdulillah pak, tugasnya masih gitu-gitu aja, gak ada habis-habisnya.” Jawabnya seraya terkekeh pelan.

“Capek juga ya pak, tapi Jagat malu untuk mengeluh ke Bapak, malu karna hidup Jagat masih segalanya minta ke Bapak, uang semester, uang jajan, uang kebutuhan, Bapak masih ambil peran itu semua.”

Bapak tersenyum menggeleng pelan, ditandaskannya terlebih dahulu kopinya yang mulai kedinginan.  “Itu salah satu tugas Bapak,  gak usah mas malu untuk mengeluh ke Bapak, karena mas anak Bapak.”

Jagat menghambur memeluk Bapak. Dulu saat Jagat kecil ia selalu merengek meminta Bapak memeluknya terlebih dahulu. Jagat tumbuh dewasa di bawah pengasuhan Bapak. Bapaklah yang selalu mengajari dari hal-hal yang kecil, seperti kata-kata ‘maaf, tolong, dan terimakasih’, yang sampai saat ini sudah melekat didiri Jagat.

“Mengeluh itu gapapa, namanya juga sudah menjadi passion manusia. Ngeluh sewajarnya, karena titik lemah manusia itu beda-beda. Hari ini mungkin mas capek, itu tandanya mas manusia”

“Tapi Jagat mau seperti Bapak, enggak pernah ngeluh di depan Jagat”

Bapak menepuk pundak jagat, “Nanti ada saatnya”

“Saat mas menjadi ayah”

Wejangan dari Bapak memang paling apik, sampai waktu itu Jagat pernah nyeletuk kepada kawan-kawannya, saat mereka bertanya, “Jagat cita-cita kamu apa?” Jagat dengan bangga menyuarakan kepada dunia, “Jagat mau seperti Bapak, hidup bermanfaat bagi semua orang” katanya waktu itu.

Kata Bapak, gapapa mengeluh, kita hanya manusia sudah menjadi tabiatnya hidup diiringi dengan mengeluh. Gapapa, mengeluh sesukanya, tetapi esok harus bangkit.

Bapak tokoh favorit Jagat, seperti tokoh film hero yang banggakan kepada semua orang. Bapak adalah dunia Jagat. Dan di sore hari itu, diakhiri gelak tawa bahagia dari Bapak dan Jagat. Bahagia keluarga kecil itu cukup sederhana, sesederhana lengkungan kelopak mata Bapak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Pertemuan Jarak Jauh di Masa Pandemi - Jimmi Carter H. Simagunsong "Kesehatan Masyarakat '2020' STIKes Nurul Hasanah Kutacane"

 Nama: Jimmi Carter H. Simangunsong Mahasiswa : -STIKes Nurul Hasanah Kutacane     -Prodi Kesehatan Masyarakat -Tngkat 2 semester 3   Judul puisi :    Pertemuan Jarak Jauh dimasa Pandemi           "Pertemuan Jarak Jauh dimasa Pandemi"          Oleh : Jimmi Carter H. Simangunsong   Pertemuan Agustus Kutuliskan ceritamu melalui puisiku Saat ini hanya ada pertemuan dari kejauhan Seolah jarak menjadi titik tempuh perjumpaan.   Negaraku sedang tidak baik-baik saja Bangsaku pun sedang rindu sanak saudara Yang katanya Covid-19 yang melanda dunia Memberi luka untuk kita para penghuniNya Serta muda tua berguguran hanya karna pertemuan.   Para pedagang kaki lima tak lagi bertemu dengan para langganannya Serta duduk diam dirumahnya menunggu bantuan dana dari pemerintahNya Pemilik gedung pun harus melihat tertutup nya pintu gedung...

Puisi Permainan Waktu - Resha Yuwanda "Psikologi '2020' Universitas Negeri Padang"

Permainan waktu     Perlahan waktu merenggut segalanya Yang patah mulai tumbuh Yang hilang mulai terganti Yang dekat mulai teralih   Dikala detak enggan berdetik Kaki enggan melangkah Namun aku tak mampu berbalik Tubuh ini terlalu lemah   Kukira pelangi ada dibalik hujan Nyatanya tak pernah muncul Bahkan jingga enggan menyapa Namun tak apa ... Biarkan waktu yang berkata