Langsung ke konten utama

Puisi Umma - Difa Kartika "Psikologi '2017' Universitas Negeri Padang"

 

Nama : Difa Kartika

Jurusan/BP : Psikologi/2017

UMMA

Karya : Difa kartika

 

Hai kamu Bintangku

Selamat terlelap dan nyenyaklah

Hari-hari yang sangat berat

Hati yang terlalu kuat

Tubuh yang sudah meronta

Mata yang tidak lagi cerah

 

Kamu akan tetap bersinar

Kamu akan tetap indah

Bertahanlah demi kami yang selalu mendambakanmu

Kuatlah untuk hidup berkepanjangan

Tidak ada kata sanggup jika kamu meredup

Tetaplah menjadi sinar yang kuat

 

Surga keindahan-Nya Tuhan ada padamu

Pandangan terindah yaitu kamu

Sinar kehidupan selalu padamu

Ya umma

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Mengeluh Adalah Passion - Alipah Siti Nuradita "Psikologi '2021' Universitas Negeri Padang"

  Mengeluh Adalah Passion Bapak terduduk di teras rumah, meminum kopi yang dibuatnya sendiri. Tersenyum tenang memperlihatkan garis halus tanda kulitnya dimakan waktu. Bapak Suryadi yang sekarang tubuhnya tidak lagi tegap seperti dahulu. Rambut bapak mulai memutih dan lingkaran bawah matanya, kian membesar dari masa kemasa. “Kuliah mas, gimana?” Tanya pria paruh baya saat anaknya itu duduk di sampingnya. Anak sulungnya yang kini beranjak usia dua puluh tahun itu menghela nafas panjangnya, seperti membawa beban begitu berat di pundaknya. Namanya Jagat Dermaga Prabumi. Jagat sedikit jenuh, jujur baginya semester lima ini, membuat sedikit tidak bersemangat. Beban yang dipikul semester lima ini cukup berat. Tugas-tugas yang silih berdatangan beranak pinak pula, tuntutan mata kuliah, pemilihan peminatan atau spesialisasi, dan dibayangi oleh pemilihan tema tugas akhir. Kalau kata Jagat, ‘Tuhan bersama mahasiswa semester lima’ Tatapi Jagat, tidak pernah mengeluh sedikit pun ke...

Puisi Permainan Waktu - Resha Yuwanda "Psikologi '2020' Universitas Negeri Padang"

Permainan waktu     Perlahan waktu merenggut segalanya Yang patah mulai tumbuh Yang hilang mulai terganti Yang dekat mulai teralih   Dikala detak enggan berdetik Kaki enggan melangkah Namun aku tak mampu berbalik Tubuh ini terlalu lemah   Kukira pelangi ada dibalik hujan Nyatanya tak pernah muncul Bahkan jingga enggan menyapa Namun tak apa ... Biarkan waktu yang berkata